img

Tahukah anda, Kenapa di bulan Juni masih turun hujan??

Penulis: Lusiana | Terbit: 18 Juni 2022 | Dibaca: 127 kali

Yosuke News  - Hallo para siswa dan sahabat Yosuke, pada artikel kali ini Kita akan membahas tentang salah satu pelajaran siswa SMA yang berhubungan dengan musim di Indonesia. Dalam pelajaran geografi kelas X, para siswa diberi pengetahuan bahwa pada umumnya musim penghujan terjadi pada bulan Oktober sampai April, sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan April sampai Oktober. Jika Kita amati, pada tahun ini di bulan Juni di beberapa wilayah di Indonesia, mengapa masih sering terjadi hujan? Padahal bulan ini harusnya sudah masuk di musim kemarau. Kita tidak perlu panik, karena ini bukan lagi menjadi suatu hal yang baru, tetapi fenomena ini berkaitan dengan fenomena La Nina.

Hasil pantauan dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) kondisi La Nina pada periode Maret hingga Mei menunjukkan terjadinya penguatan intensitas La Nina menjadi moderat atau sedang dengan nilai sebesar minus 1,05 penguatan kembali La Nina sejak awal Maret. Hal ini telah meningkatkan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia, dimana beberapa daerah yang seharusnya sudah berada pada masa peralihan menuju musim kemarau masih mengalami hujan dengan intensitas yang cukup tinggi.

Prediksi BMKG, kondisi La Nina akan menjadi lemah hingga netral pada periode Juli, Agustus, hingga September 2022. Hal ini berarti bahwa potensi pertumbuhan awan hujan akan berkurang, yang berarti juga musim kemarau akan tiba di sebagian besar wilayah Indonesia. 

Sementara itu, terkait perkembangan musim kemarau 2022, berdasarkan pantauan, saat ini sebanyak 26,6 persen dari total jumlah Zoom wilayah Indonesia sudah berada pada periode musim kemarau, sementara wilayah lainnya masih berada pada periode musim hujan dan masa peralihan musim. Perlu juga diketahui bahwa peningkatan hujan harian di beberapa wilayah Indonesia juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer harian dan kondisi atmosfer lokal di suatu wilayah.

Bagi seluruh warga Yosuke, terdapat hal yang perlu Kita ingat kembali bahwa bumi Kita saat ini sudah dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Fenomena pergeseran musim dikaitkan dengan efek dari perubahan iklim yang akan mempengaruhi karakteristik labilitas atmosfer yang berdampak pada potensi bencana hidrometeorologi yang semakin masif dan membahayakan aktivitas manusia. Pergeseran musim juga menjadi indikasi nyata perubahan iklim yang harus menjadi perhatian Kita bersama agar Kita lebih memperhatikan kelestarian bumi Kita. Marilah Kita jaga bumi Kita dari aktivitas yang semakin membahayakan kelestarian lingkungan demi masa depan anak cucu Kita.